Selasa, 12 April 2011



I. Pendahuluan
Islam merupakan perwujudan aturan hidup yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada manusia. Oleh karena itu Islam disebut juga Diinullah. Diin memiliki makna yang berbeda dari agama (milah). Islam memiliki ciri dan sifat tertentu yang menggambarkan kehidupan manusia secara keseluruhan.
Pemahaman Islam yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya adalah Islam, menyeluruh, lengkap dan sempurna berdasarkan Al Qur’an dan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Islam merupakan agama para Nabi mulai dari Adam AS sampai Nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW.
Islam memiliki beberapa makna yang menggambarkan sifat Islam itu sendiri, antara lain : Islam Diil Al-Anbiya Wal Mursalin, Islam Minhajul Hayah (pedoman hidup), Ahkamullah fi kitabihi wa sunnah rasulihi (hukum Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As Sunnah), Ash-shirath al mustaqim (jalan yang lurus) dan Salamah dunia wal akhirat (selamat dunia dan akhirat).
Diharapkan setelah memahami Islam secara menyeluruh kita dapat memperbaiki amal ibadah kita di dunia sebagai wujud pelaksanaan tujuan kita diciptakan di bumi ini, QS. Adzariyat (51) : 56
II. Makna Islam
1. Secara bahasa Islam berarti :
a. Al Wajh (menundukan wajah), QS. An Nisaa’ (4) : 125
b. Al Istislam (berserah diri), QS. Ali Imran (3) : 83
c. As Salaamah (suci, bersih), QS. As Syuara (26) : 89
d. As Salaam (selamat/sejahtera), QS. Al An’am (6) : 54
e. As Salm (perdamaian), QS. Muhammad (47) : 35
2. Secara istilah Islam berarti :
 Islam dalam Al-Qur’an disebut Ad Diin mengandung arti sistem kehidupan yang menyeluruh termasuk ibadah, kemasyarakatan, politik dan jihad. Islam mencakup keseluruhan hidup. Islam secara lengkap menyediakan keperluan manusia untuk mengatur kehidupan oleh karena itu Islam itu tinggi dan tiada yang menandinginya, QS. Ali Imran (3) : 19
 Islam bagaikan sebuah bangunan yang sempurna dengan pondasi aqidah yang kuat dan sendi tiang berupa ibadah kepada Allah dan diperindah dengan akhlak yang mulia. Peraturan dalam syariat Allah adalah yang memperkuat bangunan tersebut, manakala da’wah dan jihad merupakan pagar-pagar yang menjaga dari kerusakan musuh-musuh Islam. Islam juga memperhatikan suatu keseimbangan dimana Islam sebagai diin tidak hanya mengejar kepentingan akhirat tapi juga kepentingan dunia. Islam menggambarkan suatu keutuhan dan kesatuan dengan berbagai aspek kesempurnaan. Dengan demikian Islam adalah agama yang komprehensif yang mengatur semua yang ada di alam agar kembali kepada hukum Allah, pencipta alam ini.
III. Kesempurnaan Islam
Setiap muslim diperintah oleh Allah SWT untuk masuk dan memeluk Islam secara keseluruhan agar kita memahami bahwa Islam itu sempurna maka kita pertama-tama harus menyadari dan memahami bahwa Islam itu sempurna dilihat dari berbagai aspek, yaitu :
a. Syumuliyatuz Zaman
Islam sebagai aturan hidup sepanjang masa menunjukkan bahwa Islam diperuntukkan kepada semua alam semesta tidak terkecuali. Manusia sebagai khalifah bertugas menjaga, membangun dan memelihara melalui penutup nabi yaitu Muhammad SAW, beliau membawa risalah yang sama dengan nabi Adam AS sebagai khatam al anbiya (penutup nabi) maka seluruh risalah yang dibawa para nabi sebelumnya dilengkapi dan disempurnakan sehingga berlaku bagi seluruh manusia, tidak hanya untuk umat Rasulullah SAW pada saat itu saja, namun berlaku hingga akhir jaman, QS. As Saba (34) : 28
b. Syumuliyah Al Minhaj (kesempurnaan Pedoman)
Islam sebagai minhaj yang sempurna didasari kepada asas Aqidah, dibina dari akhlak dan ibadah kemudian didukung oleh da’wah dan jihad. Asas dari Islam adalah aqidah. Tanpa aqidah maka tidak akan kuat bangunan Islam karena ibarat rumah aqidah adalah pondasinya, kekuatan rumah dan bangunan dipengaruhi oleh kekuatan pondasi itu sendiri. 
Pada sebuah rumah bila aqidah diibaratkan sebagai pondasinya maka akhlaq dan ibadah sebagai bangunan yang akan mengokohkan dengan membentuk bagaimana rupa rumah tersebut, semakin bagus ibadah dan akhlaknya semakin bagus bentuk dan rupa rumah tersebut. untuk memperindah rumah tersebut perlu ada hiasan di rumah tersebut dengan da’wah dan jihad melalui dukungan da’wah dan jihad, maka pondasi tetap kuat dan kukuh, bangunan terpelihara dengan baik, hiasan rumah yang utama adalah atapnya dengan atap maka rumah yang dibangun akan berfungsi dengan baik. Tanpa atap, sebagus apapun bentuk bangunannya tidak akan dapat berfungsi dengan baik, QS. Ali Imran (5) : 104
c. Syumuliyah Al Makan
Seluruh tempat di muka bumi ini adalah tempat yang sesuai dengan Islam. Demikian pula siapa pun orangnya dan darimana pun asalnya, tetap di bawah naungan Islam. Semua itu diciptakan oleh Allah. Karena hanya Allah penciptanya maka seluruh makhluk dan alam dimana pun sama, sama-sama diciptakan Allah sehingga Islam yang dijadikan sebagai pedoman hidup maka Islam berlaku bagi seluruh makhluknya dimana pun mereka berada. QS. Al Baqarah (2) : 163-164.
IV. Sistem yang terkandung dalam Islam
Sebagai sebuah pedoman hidup bagi umat manusia dulu, kini dan yang kan datang, Islam memiliki kesempurnaan sehingga fleksibel di segala jaman dan lengkap sehingga dapat dipergunakan di segala jaman pula, diantara sistem yang terkandung di dalam Islam ialah:
1. Islam Sebagai Akhlaq
Islam sebagai diin tidak hanya berisi tentang cara peribadatan namun Islam mempunyai sistem akhlaq yang membedakannya dengan sistem moral/tingkah laku buatan manusia. Akhlaq Islam adalah akhlaq yang berpandukan kepada Al Qur’an. Islam mengajarkan hubungan Allah sebagai khalik dan manusia sebagai makhluk. Maksudnya, akhlaq adalah tingkah laku makhluk yang diridhai Khalik.
Sistem akhlaq dalam pandangan Islam mencakup seluruh kehidupan alam dan manusia dengan berlandaskan kepada prinsip-prinsip dasar alam dan manusia. Manhaj yang bersesuaian dengan tashawur umum ini bersumber dari Allah SWT, oleh karena itu Islam dapat melahirkan perilaku amal saleh dan akhlaq yang mulia. Namun amat disayangkan hal yang tragis terjadi sekarang adalah seorang muslim bekerjasama dengan orang yang memusuhi Islam dan mengesampingkan kaum muslimin karena terikat oleh satu ide atau ikatan.
Hal ini terjadi karena aqidah mu’min belum mantap di hati mu’min tersebut. ia belum pernah mendapat pendidikan Islam yang benar dan belum mendapat kesempatan hidup di lingkungan Islami yang membudayakan akhlaq Islami, berarti ia masih memiliki hati nurani dan fitrah yang benar.
Secara umum bentuk-bentuk akhlaq itu dibagi menjadi lima, yaitu:
1. Akhlaq kepada Allah, QS. Al Baqarah (2) : 186
2. Akhlaq kepada Rasul, QS. An Nisaa’ (4) : 80
3. Akhlaq kepada diri sendiri, QS. Al Baqarah (2) : 43-44
4. Akhlaq kepada sesama, QS. Al Baqarah (2) : 83
5. Akhlaq kepada alam, QS. Al Baqarah (2) : 30
Dengan kelima akhlaq di atas, maka seorang mu’min akan meninggalkan perbuatan tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan mulia.
2. Islam Sebagai Pedoman Hidup
a. Konsep keyakinan, QS. Al baqarah (2) : 255
b. Konsep moral (akhlaq), QS. Al A’raf (7) : 96
c. Konsep tingkah laku, QS. Al Baqarah (2) : 138
d. Syu’ur (perasaan), QS. Ar Rum (30) : 30
e. Konsep pendidikan (tarbawi), QS. Al Baqarah (2) : 151, Hadits “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga akhir hayat” (HR. Muslim)
f. Konsep sosial (ijtima’i), QS. Ar Rum (30) : 22, An Nur (24) : 2-10
g. Konsep politik (as siyasi), QS. Yusuf (12) : 40
h. Konsep ekonomi (Iqtishadi), QS. Al Baqarah (2) : 275-276
i. Konsep kemiliteran (Al Asykaari), QS. Al Anfaal (8) : 60
j. Konsep hukum/peradilan (Al Jinaa’i), QS. An Nisaa’ (4) : 65  
Referensi :
1. Ma’rifatul Islam, DR. Irwan Prayitno
2. Karakteristik Islam, DR. Yusuf Qordhowi
3. Panduan Aktivis Harakah, Muhammad Nur
4. Ma’rifatul Islam, DR. Syamsul Balda



I. Pendahuluan
Islam merupakan perwujudan aturan hidup yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada manusia. Oleh karena itu Islam disebut juga Diinullah. Diin memiliki makna yang berbeda dari agama (milah). Islam memiliki ciri dan sifat tertentu yang menggambarkan kehidupan manusia secara keseluruhan.
Pemahaman Islam yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya adalah Islam, menyeluruh, lengkap dan sempurna berdasarkan Al Qur’an dan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Islam merupakan agama para Nabi mulai dari Adam AS sampai Nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW.
Islam memiliki beberapa makna yang menggambarkan sifat Islam itu sendiri, antara lain : Islam Diil Al-Anbiya Wal Mursalin, Islam Minhajul Hayah (pedoman hidup), Ahkamullah fi kitabihi wa sunnah rasulihi (hukum Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As Sunnah), Ash-shirath al mustaqim (jalan yang lurus) dan Salamah dunia wal akhirat (selamat dunia dan akhirat).
Diharapkan setelah memahami Islam secara menyeluruh kita dapat memperbaiki amal ibadah kita di dunia sebagai wujud pelaksanaan tujuan kita diciptakan di bumi ini, QS. Adzariyat (51) : 56
II. Makna Islam
1. Secara bahasa Islam berarti :
a. Al Wajh (menundukan wajah), QS. An Nisaa’ (4) : 125
b. Al Istislam (berserah diri), QS. Ali Imran (3) : 83
c. As Salaamah (suci, bersih), QS. As Syuara (26) : 89
d. As Salaam (selamat/sejahtera), QS. Al An’am (6) : 54
e. As Salm (perdamaian), QS. Muhammad (47) : 35
2. Secara istilah Islam berarti :
 Islam dalam Al-Qur’an disebut Ad Diin mengandung arti sistem kehidupan yang menyeluruh termasuk ibadah, kemasyarakatan, politik dan jihad. Islam mencakup keseluruhan hidup. Islam secara lengkap menyediakan keperluan manusia untuk mengatur kehidupan oleh karena itu Islam itu tinggi dan tiada yang menandinginya, QS. Ali Imran (3) : 19
 Islam bagaikan sebuah bangunan yang sempurna dengan pondasi aqidah yang kuat dan sendi tiang berupa ibadah kepada Allah dan diperindah dengan akhlak yang mulia. Peraturan dalam syariat Allah adalah yang memperkuat bangunan tersebut, manakala da’wah dan jihad merupakan pagar-pagar yang menjaga dari kerusakan musuh-musuh Islam. Islam juga memperhatikan suatu keseimbangan dimana Islam sebagai diin tidak hanya mengejar kepentingan akhirat tapi juga kepentingan dunia. Islam menggambarkan suatu keutuhan dan kesatuan dengan berbagai aspek kesempurnaan. Dengan demikian Islam adalah agama yang komprehensif yang mengatur semua yang ada di alam agar kembali kepada hukum Allah, pencipta alam ini.
III. Kesempurnaan Islam
Setiap muslim diperintah oleh Allah SWT untuk masuk dan memeluk Islam secara keseluruhan agar kita memahami bahwa Islam itu sempurna maka kita pertama-tama harus menyadari dan memahami bahwa Islam itu sempurna dilihat dari berbagai aspek, yaitu :
a. Syumuliyatuz Zaman
Islam sebagai aturan hidup sepanjang masa menunjukkan bahwa Islam diperuntukkan kepada semua alam semesta tidak terkecuali. Manusia sebagai khalifah bertugas menjaga, membangun dan memelihara melalui penutup nabi yaitu Muhammad SAW, beliau membawa risalah yang sama dengan nabi Adam AS sebagai khatam al anbiya (penutup nabi) maka seluruh risalah yang dibawa para nabi sebelumnya dilengkapi dan disempurnakan sehingga berlaku bagi seluruh manusia, tidak hanya untuk umat Rasulullah SAW pada saat itu saja, namun berlaku hingga akhir jaman, QS. As Saba (34) : 28
b. Syumuliyah Al Minhaj (kesempurnaan Pedoman)
Islam sebagai minhaj yang sempurna didasari kepada asas Aqidah, dibina dari akhlak dan ibadah kemudian didukung oleh da’wah dan jihad. Asas dari Islam adalah aqidah. Tanpa aqidah maka tidak akan kuat bangunan Islam karena ibarat rumah aqidah adalah pondasinya, kekuatan rumah dan bangunan dipengaruhi oleh kekuatan pondasi itu sendiri. 
Pada sebuah rumah bila aqidah diibaratkan sebagai pondasinya maka akhlaq dan ibadah sebagai bangunan yang akan mengokohkan dengan membentuk bagaimana rupa rumah tersebut, semakin bagus ibadah dan akhlaknya semakin bagus bentuk dan rupa rumah tersebut. untuk memperindah rumah tersebut perlu ada hiasan di rumah tersebut dengan da’wah dan jihad melalui dukungan da’wah dan jihad, maka pondasi tetap kuat dan kukuh, bangunan terpelihara dengan baik, hiasan rumah yang utama adalah atapnya dengan atap maka rumah yang dibangun akan berfungsi dengan baik. Tanpa atap, sebagus apapun bentuk bangunannya tidak akan dapat berfungsi dengan baik, QS. Ali Imran (5) : 104
c. Syumuliyah Al Makan
Seluruh tempat di muka bumi ini adalah tempat yang sesuai dengan Islam. Demikian pula siapa pun orangnya dan darimana pun asalnya, tetap di bawah naungan Islam. Semua itu diciptakan oleh Allah. Karena hanya Allah penciptanya maka seluruh makhluk dan alam dimana pun sama, sama-sama diciptakan Allah sehingga Islam yang dijadikan sebagai pedoman hidup maka Islam berlaku bagi seluruh makhluknya dimana pun mereka berada. QS. Al Baqarah (2) : 163-164.
IV. Sistem yang terkandung dalam Islam
Sebagai sebuah pedoman hidup bagi umat manusia dulu, kini dan yang kan datang, Islam memiliki kesempurnaan sehingga fleksibel di segala jaman dan lengkap sehingga dapat dipergunakan di segala jaman pula, diantara sistem yang terkandung di dalam Islam ialah:
1. Islam Sebagai Akhlaq
Islam sebagai diin tidak hanya berisi tentang cara peribadatan namun Islam mempunyai sistem akhlaq yang membedakannya dengan sistem moral/tingkah laku buatan manusia. Akhlaq Islam adalah akhlaq yang berpandukan kepada Al Qur’an. Islam mengajarkan hubungan Allah sebagai khalik dan manusia sebagai makhluk. Maksudnya, akhlaq adalah tingkah laku makhluk yang diridhai Khalik.
Sistem akhlaq dalam pandangan Islam mencakup seluruh kehidupan alam dan manusia dengan berlandaskan kepada prinsip-prinsip dasar alam dan manusia. Manhaj yang bersesuaian dengan tashawur umum ini bersumber dari Allah SWT, oleh karena itu Islam dapat melahirkan perilaku amal saleh dan akhlaq yang mulia. Namun amat disayangkan hal yang tragis terjadi sekarang adalah seorang muslim bekerjasama dengan orang yang memusuhi Islam dan mengesampingkan kaum muslimin karena terikat oleh satu ide atau ikatan.
Hal ini terjadi karena aqidah mu’min belum mantap di hati mu’min tersebut. ia belum pernah mendapat pendidikan Islam yang benar dan belum mendapat kesempatan hidup di lingkungan Islami yang membudayakan akhlaq Islami, berarti ia masih memiliki hati nurani dan fitrah yang benar.
Secara umum bentuk-bentuk akhlaq itu dibagi menjadi lima, yaitu:
1. Akhlaq kepada Allah, QS. Al Baqarah (2) : 186
2. Akhlaq kepada Rasul, QS. An Nisaa’ (4) : 80
3. Akhlaq kepada diri sendiri, QS. Al Baqarah (2) : 43-44
4. Akhlaq kepada sesama, QS. Al Baqarah (2) : 83
5. Akhlaq kepada alam, QS. Al Baqarah (2) : 30
Dengan kelima akhlaq di atas, maka seorang mu’min akan meninggalkan perbuatan tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan mulia.
2. Islam Sebagai Pedoman Hidup
a. Konsep keyakinan, QS. Al baqarah (2) : 255
b. Konsep moral (akhlaq), QS. Al A’raf (7) : 96
c. Konsep tingkah laku, QS. Al Baqarah (2) : 138
d. Syu’ur (perasaan), QS. Ar Rum (30) : 30
e. Konsep pendidikan (tarbawi), QS. Al Baqarah (2) : 151, Hadits “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga akhir hayat” (HR. Muslim)
f. Konsep sosial (ijtima’i), QS. Ar Rum (30) : 22, An Nur (24) : 2-10
g. Konsep politik (as siyasi), QS. Yusuf (12) : 40
h. Konsep ekonomi (Iqtishadi), QS. Al Baqarah (2) : 275-276
i. Konsep kemiliteran (Al Asykaari), QS. Al Anfaal (8) : 60
j. Konsep hukum/peradilan (Al Jinaa’i), QS. An Nisaa’ (4) : 65  
Referensi :
1. Ma’rifatul Islam, DR. Irwan Prayitno
2. Karakteristik Islam, DR. Yusuf Qordhowi
3. Panduan Aktivis Harakah, Muhammad Nur
4. Ma’rifatul Islam, DR. Syamsul Balda

Selasa, 22 Februari 2011

Bab 1 dari kitab Al hikam

Ma'rifat laksana sinar Matahari yang menyinari kegelapan dan mengalahkan semua cahaya.

Sinar tersebut membuka hakekat segala perkara, ketinggian dan kemulyaannya serta luas manfaatnya.


Setiap orang akan mendapat sesuai dengan semangat dan kesungguhannya. 



HIKMAH KE  satu



Berkata Ibnu ‘athailah As-sakandary R.A :

PERBUATAN DZAHIR DAN SUASANA HATI



 ِمِنْ عَلاَ مَةِ الأِْعْتِمَـادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَـانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ  الزَّلَل 

“Setengah dari tanda bahwa seseorang itu bersandar pada amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan ( raja’) terhadap rahmat Alloh SWT. Ketika terjadi padanya kesalahan / dosa.”

HIKMAH KE dua
Berkata Ibnu ‘athailah As-sakandary R.A :

AHLI ASBAB DAN AHLI TAJRID
 َأِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ أِقَامَةِ اللهِ أِياَّكَ فِي الاَْسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ, وَاِرَادَتُكَ الأَْسْبَابَ مَع ِأِقَـامَةِ اللهِ أِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ اِنْحِطَاطُ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّة 
“Keinginanmu untuk tajrid (melulu ibadah tanpa berusaha dunia) padahal Alloh menempatkan kamu pada golongan ahli kasab (Berusaha) maka keinginanmu itu termasuk syahwat yang halus, sebaliknya keinginanmu untuk berkasab padahal Alloh menempatkan dirimu pada golongan ahli tajrid maka keinginanmu menurunkan derajatmu.”

HIKMAH KE TIGA
Berkata Ibnu ‘athailah As-sakandary R.A :

KETEGUHAN BENTENG TAKDIR
 سَوَابِقُ الْهِمَمِ لاَ تَحْرِقُ اَسْوَارَ اْلاَقْدَارِ
“ Kerasnya kemauan yang bergelora, tidak akan mampu mengoyak tirai (suratan) takdir Alloh.”

HIKMAH KE EMPAT
BERKATA IBNU ‘ATHAILAH AS-SAKANDARY R.A :

KETEGUHAN BENTENG TAKDIR

اَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ , فَمَا بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لاَ تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

" Tenangkan hatimu dari urusan kehendak karena yang diatur oleh selainmu tentang urusan dirimu, tidak perlu engkau campur tangan"

HIKMAH KE LIMA
BERKATA IBNU ‘ATHAILAH AS-SAKANDARY R.A :

KETEGUHAN BENTENG TAKDIR

اِجْتِهَا دُ كَ فِيْمَاضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُ كَ فِيْمَاطُلِبَ مِنْكَ  دَ لِيلٌ عَلَى انْطِمَا سِ الْبَصِيرَ ةِ مِنْكَ.


Hikmah no 5

“Kesungguh-sungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu serta keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu.”


Tambahan keterangan Ustadz Salim Bahreisy (penerjemah) di halaman 15-16:
Firman Allah di QS.Al-Ankabut[29]:60: “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(QS. ThaaHaa[20]:132)

Kerjakan apa yang menjadi kewajiban kita terhadap Kami (Allah), dan Kami melengkapi bagi kita bagian Kami. Di sini ada 2 hal, satu, yang dijamin Allah, maka hendaknya kita jangan menuduh (su’udhon) terhadap Allah. Kedua, yang dituntut Allah maka jangan kita abaikan.

Dalam sebuah hadits yang kurang lebih artinya demikian:

“Mengapakah orang-orang yang mengagungkan orang yang kaya, pemboros dan menghina ahli-ahli ibadah, serta yang selalu mengikuti tuntunan Al-Quran hanya yang sesuai dengan hawanafsu mereka sedangkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan hawanafsunya mereka tinggalkan, padahal yang demikian itu berarti mempercayai sebagian Kitab Allah, dan mengabaikan (kufur) terhadap sebagian isi Kitab-Nya. Mereka berusaha untuk mencapai apa-apa yang dapat dicapai tanpa usaha, yaitu bagian yang pasti tiba dan ajal yang sudah ditentukan, dan rezeki yang menjadi bagiannya, tetapi tidak berusaha untuk mencapai apa yang tidak dicapai kecuali dengan usahanya, yaitu pahala-pahala yang besar dan amal-amal ibadah dan ‘dagangan’ yang tidak akan rusak.”

Ibrahim Al-Khawwash berkata: “Jangan memaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yang diamanahkan kepadamu.”

Oleh sebab itu, maka siapa yang berusaha untuk mencapai yang sudah dijamin, dan mengabaikan apa yang ditugaskan kepadanya, maka berarti buta mata hatinya, karena sangat bodohnya.

______________________________________________________________________

Sahabats,

Kewajiban yang hendaknya kita ikhtiarkan dengan perjuangan sekuat tenaga adalah secara singkat mencari keridhoan Allah SWT dalam berbagai kondisi kita. Dan jika dirinci lebih lanjut a.l.:

- Dzikrullah baik dalam duduk, berdiri, berbaring, dsb (QS. 3:191)

- Khusyu’ dalam shalat (QS. 2:45-46)

- Shaum lahir maupun batin (QS. 2:183)

- Menyempurnakan keberserah-dirian kepada Allah SWT (QS. 2:208)

- Takwa dengan sebenar-benarnya takwa (haqqatu qattihi; QS. 3:102)

- Menerima dengan ridho dan menjaga rezeki harta yang Allah anugrahkan

- Dsb.

Sesungguhnya rezeki harta yang sudah, sedang maupun akan kita terima, telah Allah tetapkan (qodho) di Lauh Al-Mahfudz. Tentu saja, keyakinan kita terhadap hal tersebut serta penyikapan kita sesuai dengan tingkat keimanan dan ketakwaan kita masing-masing. Itulah yang dimaksudkan oleh Syaikh Ibnu Aththoillah ra. sebagai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu.

Sedangkan istiqamah dzikrullah, shalat yang khusyu’, keberserah-dirian yang total kepada Allah, menerima apa-apa yang Allah anugrahkan kepada kita tidaklah Allah berikan jika kita tidak berjuang dengan keras, itulah yang dimaksud oleh beliau sebagai kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu.

Demikianlah, jika kita mengabaikan yang menjadi kewajiban karena energi dan kesempatan kita sudah habis dipergunakan mencari apa-apa yang sudah dijamin oleh Allah SWT, maka kita disebut buta mata hati.

Sahabats,

Marilah kita merenungi hikmah di atas dengan qalbu yang semoga Allah bebaskan dari penguasaan hawanafsu, serta akal nalar yang mengikuti hukum-hukumnya dengan optimal

HIKMAH KE ENAM
BERKATA IBNU ‘ATHAILAH AS-SAKANDARY R.A :

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُأَ مَدِا لْعَطَا ءِ مَعَ الْإِلْحَا حِ  فِي الدُّ عَاءِمُوْجِبًالِيَأْ سِكَ , فَهُوَضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ  فِيْمَا يَخْتَا رُهُ لَكَ لَافِيْمَا تَخْتَارُهُ لِنَفْسِكَ , وَ  فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِ يْ تُرِيْدُ.



Hikmah no 6

“Janganlah kelambatan masa pemberian Allah kepadamu, padahal engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkanmu patah harapan. Sebab Allah telah menjamin menerima semua doa, dalam apa yang Dia kehendaki bagimu, dan pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.”



Ustadz Salim Bahreisy menambahkan dalam buku terjemahnya halaman 17-19 sbb:

Firman Allah,”Tuhanmu yang menjadikan segala yang dikehendaki-Nya dan memilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka memilih.”

Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui secara paripurna apa yang akan terjadi, mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas-lalu baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Rabb yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana memilihkan baginya sesuatu, hendaknya dia ridho dan menerima pilihan Rabb Yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim serta Maha Mengetahui, Maha Bijaksana sekaligus, meskipun pada lahirnya pilihan itu pahit dan pedih rasanya, namun itulah pilihan terbaik untuknya. Oleh sebab itu, bila kita berdoa kemudian belum tercapai juga keinginan kita, hendaknya janganlah kita terburu-buru putus harapan.

Allah berfirman:

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]:216)

Abu Hasan Asy-Syadzili ra. ketika mengartikan QS. Yunus[10]:9, berkata, “Maka terlaksananya kebinasaan Firaun yang berarti setelah 40 tahun doa Musa as.”

Syeikh Fadhalla Haeri, ulama yang juga menerjemahkan dan mensyarah (mengomentari Al-Hikam) dalam komentarnya menambahkan:

Allah menjawab doa hamba-hamba-Nya yang penuh kerinduan dan permohonan yang keluar dari hati yang ikhlas memohon pertolongan Allah, yang didorong oleh perintah-Nya untuk kembali kepada-Nya. Jadi waktu dan cara Allah menjawab doa para hamba-Nya tergantung pada Kekuasaan-Nya. Yang menjadi hendaknya kita lakukan sebagai makhluk/ciptaan adalah berdoa, bergantung, dan percaya kepada cara-cara yang sempurna dari Sang Pencipta dan Pengatur yang juga Al-’Alim, karena Dia selalu mengetahui keaadaan kita yang sebenarnya, juga pertolongan serta perbekalan yang paling tepat yang kita butuhkan untuk perjalanan menuju Dia.

——————————————————————————————————————-

Demikianlah sahabats, setiap doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT, sebenarnya pasti Dia kabulkan dalam waktu yang terbaik menurut Dia, serta dengan cara dan bentuk yang terbaik di mata-Nya. Oleh karena itu hendaknya kita terburu-buru patah harapan, sebab bersabar dalam hal itu, pasti akan mendatangkan kebaikan yang lebih utama.

Semoga Allah memberikan kesabaran kepada kita. Amiin.


Wallahu A’lam bi shawwab.[]